Review Buku: HELLO Karya Tere Liye
Novel Hello ini adalah novel fiksi yang ditulis oleh Tere Liye. Siapa yang tidak kenal Tere Liye? penulis novel yang hampir sebagian besar karyanya berlatar belakang fiksi. Walaupun fiksi, tetapi beberapa karyanya ada yang hampir mirip dengan realita dan berisikan pengetahuan. Seperti Negeri Para Bedebah, Teruslah Bodoh Jangan Pintar dan Ceros dan Batozar.
Novel ini bercerita tentang Hesty dan Tigor, dua anak yang tumbuh di bawah atap yang sama namun berasal dari latar belakang sosial yang sangat berbeda. Meski berasal dari "dua dunia" yang berbeda, mereka berbagi masa kecil yang penuh kenangan, kebersamaan, dan perasaan yang tumbuh seiring waktu. Namun, ketika dewasa, kenyataan status sosial mulai membayangi hubungan mereka. Cerita ini diceritakan dari sudut pandang Ana, seorang arsitek yang datang untuk merenovasi rumah masa kecil mereka- tempat di mana banyak rahasia dan kenangan masa lalu tersembunyi. Dengan alur maju-mundur, Hello menyajikan kisah cinta, perbedaan kelas sosial, dan pilihan hidup yang menyentuh hati.
Kelebihan novel Hello ini memiliki air yang mau-mundur dan punya beberapa plot twice. Hello menyajikan kisah cinta, perbedaan kelas sosial dan pilihan hidup yang menyentuh hati. Gaya bahasanya pun sangat mudah di fahami. Terdapat beberapa pesan moral yang bisa diambil dari novel Hello, yaitu:
1. Cinta Tak Cukup Hanya dengan Perasaan
Novel ini menunjukan bahwa cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua orang jika kenyataan dan keadaan sosial tidak mendukung. Ada hal-hal seperti harga diri, martabat, dan realitas hidup yang harus dipertimbangkan.
2. Masa Lalu Membentuk Masa Depan
Melalui kisah yang diceritakan Ana saat merenovasi rumah masa kecil Hesty dan Tigor, pembaca diajak merenungi bahwa kenangan dan luka lama bisa membentu cara seseorang bersikap dan membuat keputusan di masa depan.
3. Pengorbanan yang Diem-Diam
Tokoh Tigor digambarkan sebagai seseorang yang memendam perasaan dan melakukan pengorbanan tanpa banyak bicara. Dari sini, pembaca bisa belajar bahwa tidak semua pengorbanan harus tampak di permukaan-kadang cinta itu diam dan memilih jalan paling sulit demi orang yang dicintai.
4. Arsitektur Emosi dalam Kehidupan
Melalui sudut pandang Ana sang arsitek, ada simbol bahwa rumah bukan sekedar bangunan fisik-tapi juga tempat menyimpan emosi, trauma, kenangan, dan harapan. Rumah adalah metafora dari "bangunan batin" manusia.
Secara keseluruhan, novel ini sangat cocok untuk penggemar cerita cinta yang realistis, bukan sekedar manis. Bagi kalian yang sedang mencari bacaan dengan pesan emosional dan reflektif, Hello adalah pilihan yang layak dibaca dalam sekali duduk-atau dua kali duduk penuh perasaan.

Komentar
Posting Komentar