Story telling: Sepotong Ketenangan di Umbul Manten
Aku masih ingat jelas pagi itu—udara sejuk, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan saat motor yang aku tumpangi dengan om dan bulik melaju pelan menuju sebuah tempat yang sudah pernah aku datangi sebelumnya Umbul Manten di Klaten, Jawa Tengah.
Namanya unik. "Umbul" berarti mata air, dan "Manten" berarti pengantin. Katanya, tempat ini punya kisah romantis di balik namanya, tentang sepasang pengantin yang hilang dan dipercaya bersemayam di mata air ini. Tapi hari itu, aku bukan datang untuk mencari kisah mistis—aku (yang masih berusia dibawah lima belas tahun) cuma ingin main air dan bersenang senang.
Sesampainya di Sana...
Begitu sampai, aku terburu-buru ingin segera masuk ke air. Tapi, bulik mengatakan "sebentar ya, kita parkir motor dulu", akupun mengiyakan. Setelah om parkir motor, kita pun mulai jalan sedikit menyusuri jalan setapak dan akhirnya sampai di Umbul Manten. Oiya, umbul manten pun tidak sepersi sekarang yang sudah tersusun dengan sangat baik. Dulu hanya ada satu atau dua sumber mata air yang dijadikan kolam dan ada juga sungai kecil (kali) yang bisa di lalui untuk susur sungai.
Saat itu tidak banyak pengunjung. Hanya beberapa orang yang asik berendam atau sekadar duduk di pinggir kolam, menikmati suasana. Aku pun melepas sandal, mencelupkan kaki ke dalam air—dan langsung merinding. Dingin. Tapi segar. Aku juga tidak berenang, karna sangat dalam. Akupun hanya duduk-duduk mencelupkan air di pinggir kolam dan mencari ikan di sekitar kali.
Siang Itu, Aku Pulang dengan Hati Penuh
Sebelum pulang, aku sempat membeli jajan cilok. Ini sepertinya sudah menjadi ritual saat aku pulang setelah berenang (walaupun tadi hanya main air). Aku pulang siang itu dengan perasaan yang lebih senang.
Kalau suatu hari kamu merasa jenuh atau ingin ketempat yang bisa nyegerin, ingin melarikan diri tapi tak tahu ke mana, coba ke Umbul Manten.


Komentar
Posting Komentar